Kapan Bisnis Membutuhkan Software Custom? Panduan Praktis
Pelajari kapan bisnis membutuhkan software custom, tanda-tandanya, manfaat, risiko, dan cara menentukan apakah sistem khusus memang layak dibangun.
Randi Bouty
admin
Banyak proyek software bermasalah bukan karena developer tidak mampu membuat fitur, tetapi karena tim belum benar-benar menentukan requirement aplikasi sebelum development dimulai. Brief hanya berisi daftar fitur seperti login, dashboard, notification, dan report tanpa menjelaskan siapa pengguna, masalah apa yang diselesaikan, data apa yang dibutuhkan, serta bagaimana sistem dianggap berhasil.
Akibatnya, scope mudah berubah. User meminta fitur tambahan. Developer membuat asumsi. Timeline bergeser karena hal penting baru ditemukan setelah aplikasi sudah berjalan.
Requirement yang baik tidak harus menjadi dokumen ratusan halaman. Ia harus cukup jelas untuk menyatukan pemahaman bisnis, user, design, dan development.
Requirement aplikasi adalah kumpulan kebutuhan yang menjelaskan tujuan sistem, siapa penggunanya, workflow yang perlu didukung, data yang diproses, fungsi yang harus tersedia, batasan teknis, serta kriteria yang menentukan apakah fitur bekerja dengan benar.
Requirement menjembatani pertanyaan bisnis dengan keputusan teknis.
Contohnya, “buat dashboard sales” bukan requirement yang cukup.
Requirement yang lebih jelas:
> Sales manager perlu melihat pencapaian KPI per region dan sales representative, memfilter periode, membuka detail data, serta mengetahui record yang membutuhkan tindak lanjut.
Kalimat tersebut memberi konteks tentang user, kebutuhan, dan action.
Kesalahan paling umum adalah memulai dengan daftar fitur.
Misalnya:
Pertanyaan pertama seharusnya:
Masalah apa yang ingin diselesaikan?
Contoh problem:
Problem membantu tim menilai apakah sebuah fitur benar-benar diperlukan.
Satu aplikasi dapat memiliki banyak tipe user.
Contohnya:
Setiap role perlu memiliki kebutuhan dan permission berbeda.
Buat pertanyaan:
Role-based requirement perlu ditentukan lebih awal karena memengaruhi database, UI, security, dan testing.

Photo by cottonbro studio on Pexels
Sebelum merancang workflow digital, pahami bagaimana pekerjaan dilakukan sekarang.
Contoh:
Dari sini tim dapat melihat bottleneck, duplikasi, serta bagian yang layak diotomatisasi.
Software tidak harus menyalin workflow lama. Namun workflow lama membantu memahami masalah yang sebenarnya.
Setelah memahami proses sekarang, buat target flow.
Contoh:
Flow ini kemudian menjadi dasar untuk user stories dan feature requirement.
Aplikasi selalu bergantung pada data.
Untuk setiap proses, tentukan:
Data requirement sering lebih penting daripada tampilan.
Jika struktur data salah, dashboard dan automation juga akan bermasalah.
Functional requirement menjelaskan apa yang harus dapat dilakukan sistem.
Contoh:
Gunakan kalimat yang spesifik dan dapat diuji.
Hindari requirement seperti:
> “Dashboard harus bagus.”
Lebih baik:
> “Dashboard menampilkan total sales, target, achievement, dan filter berdasarkan periode.”

Photo by Walls.io on Pexels
Tidak semua requirement berupa fitur.
Non-functional requirement dapat mencakup:
Siap Membuat Marketing Jadi Sistem?
Satukan strategi, konten, website, SEO, ads, outreach, dashboard, dan AI automation dalam satu alur kerja yang lebih terukur.
Contoh:
> Hanya manager dan admin yang dapat melihat data seluruh region.
Itu bukan fitur visual, tetapi sangat penting.
Jika aplikasi terhubung dengan sistem lain, dokumentasikan:
Contohnya:
> Ketika payment berhasil, sistem mengubah status order menjadi paid dan mengirim confirmation.
Integration requirement perlu jelas karena dependensinya sering berada di luar tim development.

Photo by Edmond Dantès on Pexels
Acceptance criteria menjawab:
Kapan fitur dianggap selesai?
Contoh fitur: upload CSV.
Acceptance criteria:
Dengan acceptance criteria, QA dan user memiliki definisi yang sama.


Portofolio Rekah Studio menunjukkan bagaimana bentuk aplikasi berubah mengikuti requirement.
Pada SAMOFA, kebutuhan monitoring sales menghasilkan requirement seperti KPI, filter bulan, region, outlet, sales representative, data input, role-based access, dan activity log.
Pada Scalev E-commerce Ops Platform, requirement lebih operasional karena sistem perlu mengelola order, customer, inventory, payment, serta status transaksi.
Pada Event Platform, requirement berpusat pada customer journey: discovery, event details, ticketing, transaction flow, dan measurement.
Tiga proyek tersebut tidak dapat memakai requirement yang sama meskipun semuanya berbentuk web application.
Prinsip yang digunakan Rekah Studio adalah: jangan menentukan teknologi sebelum memahami workflow, user, data, dan success criteria.
Setelah requirement terkumpul, jangan langsung memasukkan semuanya ke versi pertama.
Kelompokkan fitur menjadi:
Tanpa fitur ini, workflow utama tidak dapat berjalan.
Penting, tetapi sistem masih dapat digunakan tanpanya.
Memberi nilai tambahan tetapi dapat ditunda.
Ide yang belum perlu masuk roadmap awal.
MVP bukan aplikasi setengah jadi. MVP adalah versi paling kecil yang dapat menjalankan workflow utama dan menghasilkan feedback nyata.
Untuk banyak proyek, struktur berikut sudah cukup untuk memulai:
Dokumen ini dapat berkembang menjadi user stories, wireframe, technical specification, dan backlog development.
Fitur: workshop problem, workflow mapping, user, tools, data, dan bottleneck.
Benefit: development tidak dimulai dari asumsi.
Fitur: requirement breakdown, prototype, frontend, backend, database, API, dan testing.
Benefit: setiap fitur memiliki alasan bisnis dan acceptance criteria.
Fitur: usage monitoring, feedback user, bug review, dan backlog.
Benefit: requirement baru berasal dari penggunaan nyata.
Fitur: workflow automation, AI analysis, alert, reporting, dan action log.
Benefit: automation diterapkan setelah proses dan data cukup stabil.
Proses tersebut membantu Rekah Studio membangun Growth Operating System yang menghubungkan IT Solutions, Marketing 360, website, dashboard, CRM, data, AI, dan automation.
Pelajari Rekah Studio melalui rekah.id atau diskusikan requirement aplikasi Anda.
Image brief: diagram requirement discovery dari Problem → User → Workflow → Data → Feature → Integration → Acceptance Criteria → MVP. Gunakan sticky-note atau system map yang profesional.
Alt text: cara menentukan requirement aplikasi dari problem, user, workflow, data, fitur, dan acceptance criteria.
Idealnya requirement disusun bersama antara stakeholder bisnis, user, product owner, designer, dan tim teknis. Satu pihak tidak selalu memiliki seluruh konteks.
Tidak. Namun core workflow, user, data, dan scope MVP harus cukup jelas agar development tidak dimulai dari asumsi.
Requirement menjelaskan kebutuhan yang harus dipenuhi. Fitur adalah bentuk implementasi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Acceptance criteria adalah kondisi yang harus terpenuhi agar suatu fitur dianggap bekerja sesuai kebutuhan.
Karena bisnis, user, dan pemahaman terhadap masalah berkembang. Perubahan tidak selalu buruk, tetapi harus dikelola melalui prioritas dan scope control.
Menentukan requirement aplikasi adalah proses memahami problem, user, workflow, data, fitur, integration, batasan, dan acceptance criteria sebelum development berjalan terlalu jauh.
Requirement yang baik tidak harus panjang. Ia harus cukup spesifik untuk mengurangi asumsi dan membantu semua pihak memahami hasil yang ingin dicapai. Dalam praktik, menentukan requirement aplikasi sejak awal juga membantu menjaga scope dan prioritas MVP tetap lebih terarah.
Rekah Studio menggunakan discovery dan workflow mapping sebelum development agar aplikasi dibangun untuk pekerjaan nyata, bukan sekadar daftar fitur.
Jika ide aplikasi Anda masih berupa daftar fitur tanpa alur yang jelas, diskusikan requirement dan MVP bersama Rekah Studio.
Siap Membuat Marketing Jadi Sistem?
Satukan strategi, konten, website, SEO, ads, outreach, dashboard, dan AI automation dalam satu alur kerja yang lebih terukur.