Info

Cara Menentukan Requirement Aplikasi untuk Proyek Bisnis

Foto Randi Bouty

Randi Bouty

admin

Cara Menentukan Requirement Aplikasi untuk Proyek Bisnis

Cara Menentukan Requirement Aplikasi untuk Proyek Bisnis

Banyak proyek software bermasalah bukan karena developer tidak mampu membuat fitur, tetapi karena tim belum benar-benar menentukan requirement aplikasi sebelum development dimulai. Brief hanya berisi daftar fitur seperti login, dashboard, notification, dan report tanpa menjelaskan siapa pengguna, masalah apa yang diselesaikan, data apa yang dibutuhkan, serta bagaimana sistem dianggap berhasil.

Akibatnya, scope mudah berubah. User meminta fitur tambahan. Developer membuat asumsi. Timeline bergeser karena hal penting baru ditemukan setelah aplikasi sudah berjalan.

Requirement yang baik tidak harus menjadi dokumen ratusan halaman. Ia harus cukup jelas untuk menyatukan pemahaman bisnis, user, design, dan development.

Apa Itu Requirement Aplikasi?

Requirement aplikasi adalah kumpulan kebutuhan yang menjelaskan tujuan sistem, siapa penggunanya, workflow yang perlu didukung, data yang diproses, fungsi yang harus tersedia, batasan teknis, serta kriteria yang menentukan apakah fitur bekerja dengan benar.

Requirement menjembatani pertanyaan bisnis dengan keputusan teknis.

Contohnya, “buat dashboard sales” bukan requirement yang cukup.

Requirement yang lebih jelas:

> Sales manager perlu melihat pencapaian KPI per region dan sales representative, memfilter periode, membuka detail data, serta mengetahui record yang membutuhkan tindak lanjut.

Kalimat tersebut memberi konteks tentang user, kebutuhan, dan action.

1. Mulai dari Problem, Bukan Fitur

Kesalahan paling umum adalah memulai dengan daftar fitur.

Misalnya:

  1. Login.
  2. Dashboard.
  3. Chat.
  4. Export.
  5. Notification.
  6. AI.

Pertanyaan pertama seharusnya:

Masalah apa yang ingin diselesaikan?

Contoh problem:

  1. Manager tidak dapat melihat performa sales tanpa menggabungkan beberapa file.
  2. Admin memasukkan data order dua kali.
  3. Leads tidak memiliki owner yang jelas.
  4. Customer tidak dapat melihat status layanan.
  5. Approval sering terlambat karena berjalan melalui chat.

Problem membantu tim menilai apakah sebuah fitur benar-benar diperlukan.

2. Identifikasi User dan Role

Satu aplikasi dapat memiliki banyak tipe user.

Contohnya:

  1. Admin.
  2. Staff.
  3. Sales.
  4. Manager.
  5. Customer.
  6. Vendor.

Setiap role perlu memiliki kebutuhan dan permission berbeda.

Buat pertanyaan:

  1. Apa yang boleh dilihat?
  2. Apa yang boleh dibuat?
  3. Apa yang boleh diedit?
  4. Apa yang boleh dihapus?
  5. Siapa yang melakukan approval?
  6. Siapa yang melihat semua data?

Role-based requirement perlu ditentukan lebih awal karena memengaruhi database, UI, security, dan testing.

3. Petakan Workflow Saat Ini

Dekat papan putih dengan catatan tempel berwarna untuk organisasi tugas dan perencanaan.

Photo by cottonbro studio on Pexels

Sebelum merancang workflow digital, pahami bagaimana pekerjaan dilakukan sekarang.

Contoh:

  1. Lead masuk melalui form.
  2. Admin mengecek data.
  3. Lead dimasukkan ke spreadsheet.
  4. Manager menentukan PIC.
  5. Sales menghubungi lead.
  6. Status dilaporkan melalui chat.
  7. Admin memperbarui spreadsheet.
  8. Manager membuat laporan.

Dari sini tim dapat melihat bottleneck, duplikasi, serta bagian yang layak diotomatisasi.

Software tidak harus menyalin workflow lama. Namun workflow lama membantu memahami masalah yang sebenarnya.

4. Rancang Workflow yang Diinginkan

Setelah memahami proses sekarang, buat target flow.

Contoh:

  1. Lead masuk.
  2. Data tervalidasi.
  3. Sistem membuat record.
  4. PIC ditentukan berdasarkan territory.
  5. Sales mendapat alert.
  6. Status diperbarui di aplikasi.
  7. Reminder aktif jika belum ada follow-up.
  8. Dashboard berubah otomatis.

Flow ini kemudian menjadi dasar untuk user stories dan feature requirement.

5. Tentukan Data yang Dibutuhkan

Aplikasi selalu bergantung pada data.

Untuk setiap proses, tentukan:

  1. Data apa yang masuk?
  2. Siapa yang mengisi?
  3. Apakah wajib?
  4. Formatnya apa?
  5. Data disimpan di mana?
  6. Siapa yang boleh melihat?
  7. Apakah perlu history?
  8. Apakah dapat diedit?
  9. Apakah perlu di-export?

Data requirement sering lebih penting daripada tampilan.

Jika struktur data salah, dashboard dan automation juga akan bermasalah.

6. Tulis Functional Requirement

Functional requirement menjelaskan apa yang harus dapat dilakukan sistem.

Contoh:

  1. User dapat login.
  2. Admin dapat membuat user.
  3. Sales dapat memperbarui status lead.
  4. Manager dapat memfilter data per region.
  5. Sistem dapat mengirim reminder.
  6. User dapat mengupload CSV.
  7. Sistem dapat menolak file dengan format tidak valid.

Gunakan kalimat yang spesifik dan dapat diuji.

Hindari requirement seperti:

> “Dashboard harus bagus.”

Lebih baik:

> “Dashboard menampilkan total sales, target, achievement, dan filter berdasarkan periode.”

7. Jangan Lupakan Non-Functional Requirement

Close-up tangan yang meletakkan catatan tempel kuning 'Cara' di papan putih untuk perencanaan.

Photo by Walls.io on Pexels

Tidak semua requirement berupa fitur.

Non-functional requirement dapat mencakup:

  1. Performance.
  2. Security.
  3. Availability.
  4. Responsiveness.
  5. Backup.
  6. Audit log.
  7. Browser support.
  8. Access control.
  9. Data retention.

Siap Membuat Marketing Jadi Sistem?

Satukan strategi, konten, website, SEO, ads, outreach, dashboard, dan AI automation dalam satu alur kerja yang lebih terukur.

Audit Growth GratisJadwalkan Diskusi

Contoh:

> Hanya manager dan admin yang dapat melihat data seluruh region.

Itu bukan fitur visual, tetapi sangat penting.

8. Tentukan Integration Requirement

Jika aplikasi terhubung dengan sistem lain, dokumentasikan:

  1. Source.
  2. Destination.
  3. API.
  4. Trigger.
  5. Data mapping.
  6. Authentication.
  7. Frequency.
  8. Error handling.
  9. Retry.
  10. Logging.

Contohnya:

> Ketika payment berhasil, sistem mengubah status order menjadi paid dan mengirim confirmation.

Integration requirement perlu jelas karena dependensinya sering berada di luar tim development.

9. Tentukan Acceptance Criteria

Dekat tangan yang memegang kertas suara di dalam ruangan, melambangkan demokrasi dan hak-hak sipil.

Photo by Edmond Dantès on Pexels

Acceptance criteria menjawab:

Kapan fitur dianggap selesai?

Contoh fitur: upload CSV.

Acceptance criteria:

  1. Hanya file CSV yang diterima.
  2. Kolom wajib harus tersedia.
  3. Data tidak valid ditolak.
  4. User melihat pesan error.
  5. Data valid masuk ke database.
  6. Sistem mencatat waktu upload.
  7. Activity log menyimpan user yang melakukan upload.

Dengan acceptance criteria, QA dan user memiliki definisi yang sama.

Pengalaman Rekah Studio: Requirement Menentukan Bentuk Produk

Rekah Studio - Hybrid Marketing Agency

Rekah Studio - Hybrid Marketing Agency

Portofolio Rekah Studio menunjukkan bagaimana bentuk aplikasi berubah mengikuti requirement.

Pada SAMOFA, kebutuhan monitoring sales menghasilkan requirement seperti KPI, filter bulan, region, outlet, sales representative, data input, role-based access, dan activity log.

Pada Scalev E-commerce Ops Platform, requirement lebih operasional karena sistem perlu mengelola order, customer, inventory, payment, serta status transaksi.

Pada Event Platform, requirement berpusat pada customer journey: discovery, event details, ticketing, transaction flow, dan measurement.

Tiga proyek tersebut tidak dapat memakai requirement yang sama meskipun semuanya berbentuk web application.

Prinsip yang digunakan Rekah Studio adalah: jangan menentukan teknologi sebelum memahami workflow, user, data, dan success criteria.

Cara Memprioritaskan MVP

Setelah requirement terkumpul, jangan langsung memasukkan semuanya ke versi pertama.

Kelompokkan fitur menjadi:

Must Have

Tanpa fitur ini, workflow utama tidak dapat berjalan.

Should Have

Penting, tetapi sistem masih dapat digunakan tanpanya.

Could Have

Memberi nilai tambahan tetapi dapat ditunda.

Not Now

Ide yang belum perlu masuk roadmap awal.

MVP bukan aplikasi setengah jadi. MVP adalah versi paling kecil yang dapat menjalankan workflow utama dan menghasilkan feedback nyata.

Requirement Document Sederhana

Untuk banyak proyek, struktur berikut sudah cukup untuk memulai:

  1. Problem
  2. Objective
  3. User dan Role
  4. Current Workflow
  5. Target Workflow
  6. Functional Requirement
  7. Data Requirement
  8. Integration
  9. Non-Functional Requirement
  10. Acceptance Criteria
  11. MVP Priority
  12. Out of Scope
  13. Success Metric

Dokumen ini dapat berkembang menjadi user stories, wireframe, technical specification, dan backlog development.

Cara Rekah Studio Menjalankan Discovery

Audit

Fitur: workshop problem, workflow mapping, user, tools, data, dan bottleneck.

Benefit: development tidak dimulai dari asumsi.

Build

Fitur: requirement breakdown, prototype, frontend, backend, database, API, dan testing.

Benefit: setiap fitur memiliki alasan bisnis dan acceptance criteria.

Operate

Fitur: usage monitoring, feedback user, bug review, dan backlog.

Benefit: requirement baru berasal dari penggunaan nyata.

Automate

Fitur: workflow automation, AI analysis, alert, reporting, dan action log.

Benefit: automation diterapkan setelah proses dan data cukup stabil.

Proses tersebut membantu Rekah Studio membangun Growth Operating System yang menghubungkan IT Solutions, Marketing 360, website, dashboard, CRM, data, AI, dan automation.

Pelajari Rekah Studio melalui rekah.id atau diskusikan requirement aplikasi Anda.

Rekomendasi Gambar Utama

Image brief: diagram requirement discovery dari Problem → User → Workflow → Data → Feature → Integration → Acceptance Criteria → MVP. Gunakan sticky-note atau system map yang profesional.

Alt text: cara menentukan requirement aplikasi dari problem, user, workflow, data, fitur, dan acceptance criteria.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Siapa yang Harus Membuat Requirement Aplikasi?

Idealnya requirement disusun bersama antara stakeholder bisnis, user, product owner, designer, dan tim teknis. Satu pihak tidak selalu memiliki seluruh konteks.

Apakah Requirement Harus Selesai 100% Sebelum Development?

Tidak. Namun core workflow, user, data, dan scope MVP harus cukup jelas agar development tidak dimulai dari asumsi.

Apa Bedanya Requirement dan Fitur?

Requirement menjelaskan kebutuhan yang harus dipenuhi. Fitur adalah bentuk implementasi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Apa Itu Acceptance Criteria?

Acceptance criteria adalah kondisi yang harus terpenuhi agar suatu fitur dianggap bekerja sesuai kebutuhan.

Mengapa Requirement Sering Berubah?

Karena bisnis, user, dan pemahaman terhadap masalah berkembang. Perubahan tidak selalu buruk, tetapi harus dikelola melalui prioritas dan scope control.

Kesimpulan

Menentukan requirement aplikasi adalah proses memahami problem, user, workflow, data, fitur, integration, batasan, dan acceptance criteria sebelum development berjalan terlalu jauh.

Requirement yang baik tidak harus panjang. Ia harus cukup spesifik untuk mengurangi asumsi dan membantu semua pihak memahami hasil yang ingin dicapai. Dalam praktik, menentukan requirement aplikasi sejak awal juga membantu menjaga scope dan prioritas MVP tetap lebih terarah.

Rekah Studio menggunakan discovery dan workflow mapping sebelum development agar aplikasi dibangun untuk pekerjaan nyata, bukan sekadar daftar fitur.

Jika ide aplikasi Anda masih berupa daftar fitur tanpa alur yang jelas, diskusikan requirement dan MVP bersama Rekah Studio.

Siap Membuat Marketing Jadi Sistem?

Satukan strategi, konten, website, SEO, ads, outreach, dashboard, dan AI automation dalam satu alur kerja yang lebih terukur.

Audit Growth GratisJadwalkan Diskusi
#menentukan requirement aplikasi #requirement aplikasi #app requirement #requirement perangkat lunak #user requirement aplikasi #software requirement #requirement aplikasi adalah #kebutuhan sistem

Bagikan artikel ini

Copy share siap pakai

Keyword utama: menentukan requirement aplikasi

Cara Menentukan Requirement Aplikasi untuk Proyek Bisnis membahas menentukan requirement aplikasi secara ringkas dan relevan untuk kebutuhan bisnis saat ini.

Pelajari cara menentukan requirement aplikasi dari problem, user, workflow, data, fitur, integration, sampai acceptance criteria agar development lebih terarah. Pembahasannya membantu pembaca memahami menentukan requirement aplikasi dengan lebih terarah.

Baca panduan lengkap tentang menentukan requirement aplikasi di Rekah Studio dan temukan langkah praktis yang bisa langsung diterapkan.